Hamba Tuhan: silahkan dikritisi & dikoreksi .. tetapi tetap dihormati

Posted on September 19, 2008 by lee123.
Categories: Uncategorized.

artikel ini ditulis oleh Adrian Lim saya ambil dari Forum GMS karena sangat penting untuk kita tahu..

Satu kali Harun dan Miryam mempersoalkan tindakan Musa yang mengambil istri baru. Musa sebelumnya telah memiliki seorang istri, Zipora, anak Imam Yitro di Midian. Istri baru Musa berasal dari suku bangsa Kush.

Alkitab menuliskan bahwa suku bangsa Kush berasal dari Kush anak Ham; Kush dan Kanaan adalah saudara kandung. Dari Kush inilah lahir Nimrod yang terkenal dengan kisah menara Babel. (Kejadian 10:6)

Sebenarnya tindakan Harun dan Miryam mempersoalkan perilaku Musa adalah hal yang wajar saja. Hal ini biasa terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang melakukan suatu tindakan, lalu yang lain mempersoalkannya atau menyatakan ketidaksetujuan.

Tetapi ketidaksetujuan Harun dan Miryam menjadi sangat serius dan “tidak wajar” ketika mereka mulai “melebarkan persoalan” itu ke arah hubungan Musa dengan Tuhan. Perhatikan perkataan mereka:

1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. 2 Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
Bilangan 12

Awalnya mereka mengkritisi Musa atas tindakannya menikahi perempuan Kush. Tetapi belakangan mereka mulai mempersoalkan hubungan Musa dengan Tuhan. Dalam pandangan Harun dan Miryam, hubungan Musa dengan Tuhan tak ada lebihnya dibandingkan mereka berdua:

“Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?”

Musa menanggapinya dengan diam. Tak ada tanggapan, tak ada reaksi,
hanya diam! Tetapi tidak demikian halnya dengan Tuhan!

4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. 5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. 6 Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. 7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” 9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia.
Bilangan 12

Tuhan murka kepada Harun dan Miryam!

Kisah selanjutnya kita pasti sudah mengetahuinya.

***

Sahabat, kita tidak tahu persis apa alasan Musa mengambil istri baru seorang perempuan Kush; dia pasti memiliki alasannya sendiri. Sebenarnya ketika hal itu dipersoalkan oleh Harun dan Miryam itu adalah hal wajar di dalam hubungan sesama saudara. Tapi sayangnya Harun dan Miryam terbawa emosi pribadi dan kebablasan dengan memakai hal itu menjadi alasan untuk mempersoalkan kedudukan Musa di hadapan Tuhan.

Jika kita membaca ulang kutipan Bilangan 12 di atas maka kita akan mendapati bahwa Tuhan sendiripun tidak mempersoalkan ketika Harun dan Miryam mempersoalkan istri baru Musa. Tetapi Tuhan mempersoalkan ‘celotehan’ mereka tentang hubungan atau kedudukan Musa di hadapan Tuhan. Kita lihat ayat-ayat berikut:

2b Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa
saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?”

6 Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. 7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?”

Sekali lagi, Tuhan tidak terusik ketika Harun dan Miryam mempersoalkan perempuan Kush, istri baru Musa, tetapi DIA murka ketika mereka berdua mulai mempersoalkan hubungan atau kedudukan Musa di hadapan Tuhan.

***

Sahabat, dari pembahasan di atas kita dapat menarik beberapa pelajaran penting:

1. Sewajarnya kita harus menghormati hamba Tuhan/pemimpin rohani. Bagaimanapun harus disadari, bahwa seorang hamba Tuhan/pemimpin rohani memiliki kedudukan lebih di mata Tuhan, dibandingkan jemaat biasa.

Tetapi seorang hamba Tuhan sewajarnya juga tidak mencari-cari atau mengharapkan penghormatan. Menjadi sangat tidak wajar jika seorang pemimpin rohani menjadi gusar atau marah ketika orang-orang atau jemaat tidak memberinya penghormatan.

Belajar dari kasus di atas, Musa hanya diam, tetapi Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan sendiri turun tangan dan ‘memaksa’ Harun dan Miryam untuk menghormati Musa.

2. Mempersoalkan atau menyatakan ketidaksetujuan terhadap tindakan yang diambil seorang hamba Tuhan, adalah hal yang wajar. Tetapi harus diperhatikan untuk tetap menaruh hormat kepada hamba Tuhan tersebut, dan tidak melebarkan persoalan ke hubungannya atau kedudukannya di hadapan Tuhan.

3. Seorang hamba Tuhan seharusnya tidak merasa ‘kebakaran jenggot’ ketika keputusannya dikritisi atau dipersoalkan. Perbedaan pendapat dan cara pandang adalah biasa. Kedudukannya sebagai hamba Tuhan tidak menempatkannya pada posisi “tidak boleh dikritisi atau dikoreksi”.

Musa tetap rendah hati dan tidak kasak-kusuk ketika mendapati dirinya dikritisi oleh kedua saudara/i kandungnya. Musa tidak terbawa emosi dan juga tidak ‘memperingatkan’ mereka bahwa pengalaman pribadinya dengan Tuhan jauh lebih hebat.

4. Sangat disayangkan bahwa zaman sekarang banyak hamba Tuhan yang menggunakan ayat Bilangan 12:10 untuk menakut-nakuti atau minimal meredam ketidakpuasan orang-orang/jemaat sehingga tidak berani memprotes/mengkritisi/mempertanyakan hamba Tuhan. Untuk memproteksi diri dan kepentingannya mereka bahkan tak ragu untuk berkata dari atas mimbar:

“Jangan mengutak-atik hamba Tuhan, karena jika Anda melakukannya,
maka Tuhan akan mengutukmu dengan kusta seperti Miryam!”

“Jangan memperbincangkan hamba Tuhan, karena dia adalah biji mata Tuhan.
Jika Anda berani melakukannya, maka Tuhan akan menghukum Anda!”

Hamba Tuhan yang seperti ini banyaaaaaak sekali!
Dan herannya semakin lama jumlahnya semakin banyak aja!

5. Berselisih pendapat dengan seorang hamba Tuhan tidak membuat Anda dihukum Tuhan. Yang mendatangkan penghukuman dari Tuhan adalah jika Anda menggunakan masalah itu menjadi alasan untuk mempersoalkan kedudukannya di hadapan Tuhan! Seperti itulah yang dilakukan Harun dan Miryam.

***

Sahabat, dalam keseharian, kita mendapati orang-orang atau jemaat cenderung dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, dalam hal cara mereka menanggapi seorang hamba Tuhan:

1. Kelompok patuh total.

Mereka selalu mengatakan “ya” atas apapun yang dilakukan/dikatakan seorang hamba Tuhan. Tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengkonfrontasikan apa yang dikatakan sang hamba Tuhan dengan apa yang tertulis di Alkitab. Hal ini terjadi mungkin karena ketidakperdulian atau ketidakmengertian, atau mungkin juga karena takut ‘dikutuk’ Tuhan.

Akibatnya penyesatan dengan mudah terjadi.
Dan dekapan kultus individu menyambut didepan mata!

2. Kelompok terlalu kritis.

Mereka selalu mengatakan “tunggu dulu” kepada apapun yang disampaikan/dilakukan seorang hamba Tuhan. Dan mengkonfrontirnya dengan segala pengetahuan/pemahaman mereka sendiri, baik itu dari Alkitab maupun tidak. Kelompok ini sepintas terkesan mencari hamba Tuhan yang “perfect” alias Alkitabiah 100%. Padahal sebenarnya mereka sedang mencari hamba Tuhan yang sesuai dengan selera mereka sendiri.

Tapi ada satu kelompok lain yang sangat kecil jumlahnya. Mereka menanggapi
hamba Tuhan seperti layaknya seorang hamba Tuhan patut diperlakukan:

- dipatuhi sebagai seorang gembala/pemimpin rohani,
- dikasihi, dikoreksi dan dikritisi selayaknya sesama saudara/manusia,
- dihormati selayaknya seorang hamba Tuhan.

Pertanyaannya : “Anda dikelompok yang mana?”

Tuhan Yesus memberkati.

Membangun kerajaan bisnisku..

Posted on September 15, 2008 by lee123.
Categories: Uncategorized.

Hmm ini sih sbenernya udah gw pikiran dari waktu2 sebelumnya. dulu bingung bgt sih mau bikin bisnis di jalur apa? dlu sempet mau di jalur accesories komputer dan notebook, terus sempet mau bisnis stiker. tapi sepertinya hal2 tadi tidak begitu aku sukai.

sambil berjalannya waktu akhirnya gw menemukan bisnis seperti apa yg kira2 mudah dan bisa gw bangun, tanpa modal besar dan bisa menjual. yah akhirnya gw dan beberapa teman sedang merencanakan membangun bisnis servis komputer. nah kalo ini sih kebetulan gw dapet skillnya waktu dulu cuti kuliah dan kerja di sebuah tempat distributor notebook.

sekarang ini sih kita lagi mikirin detilnya bisnis ini mau seperti apa.. kalo soal visi dan misinya sih sudah kita tetapkan, sekarang tinggal masalah aturan2 yang jelas didalamnya supaya bisa adil dan efektif buat kita yg memulai bisnis ini.

rencana kedepannya bisnis ini gak hanya akan berkutat di servis komputer saja, tapi juga menerima rakitan komputer sendiri, menjual berbagai jenis notebook, menerima instalasi jaringan untuk internet dikos,dan sebagainya. dan itu semua akan terjadi segera.. hahaha tunggu aja tanggal mainnya, dan kalo udah waktunya maap ya teman2ku bisnis is bisnis, teman sih teman hahaha.. ya untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar jadi maap ya kalo ada ongkos servisnya.. hahha

hmm bantu doa ya teman2 supaya bisnis ini bisa benar2 terselengara dengan baik.God help us..thx GBU